Thursday, April 06, 2006

Mulut

Mulut-Mulut Penguasa

Kata-kata manis dari penguasa
Umpatkan omongan yang benar dan damai,

kau tebar aroma kepalsuan
Hinggap diatas ranting kesengsaraan rakyat,

tebaskan harapan reformasi
Tanda demokrasi diujung waktu

Pertentangan kami untuk tegakkan muka bangsa ini
mulut bermuka manis kata-kata mengiris janji,

tiada kemauan yang baik dari penguasa
Adakah kematian hati seorang tua tanpa istri, mengarungi malam dengan mimpi tentang kematianmu nanti

Menginjak batas-batas asasi manusia, pergi menuju kematian tanpa menyandang materi

Hanya ruh sepi dari kejaliman perbuatanmu nanti yang mengarungi jasadmu yang mati
Tanpa kami peduli. Tuhan maha perkasa tak akan ada tanda-tanda kejayaanmu

Penguasa mulutmu bagaikan aroma petai, tak kau rasakan apa yang kau ucapkandanm lakukan
Penguasa mulut-mulutmu adalah tiupan angin dari kebakaran, kelaparan, penyakit
dan seluruh bencana di bumi ini
Penguasa mulutmu membawa bencana

Puisi 2

Kau Cintaku

Ada langkahku yang tertinggal
Ada sesak dalam nafas cintaku
Menancap pada lain sisi
terlalu payah hatiku menanti hari

Ada cinta yang kupendam kala itu
Ada sesal tak berujung, riak air dalam gelap
Jalan hidup mencari cinta
Dan kini kau hanya kukenang
Hanya itu dalam kesendirian
Terlalu sepi,
Hanya namamu mengalirkan airmata tak berarti apa

Wednesday, April 05, 2006

Lelaki Airmata

Lelaki Airmata

Sendiri dan diam
Kelam nan indah tak jua bertambah tapi suram
Namun karena yang ada tampak jua menggelora
Bergema nuansa haru biru menyembulkan nestapa diraga rasuki jiwa

Airmata itu bagai senja, dingin yang akan melanda
Tiada lupa juga setitik asmara dari dosa yang bernoda
Kehampaan dan kehinaan dijalan yang ada
Ketika saat tampak sesat menuju arah didepannya

Airmata yang tak diusapnya, berubah warna dan harapan
Jauh menyentuh dingin hati terkenang kini dengan sesalan
Lelaki airmata menatap asa, dari siksa dingin yang dulu tampak memudar kasar
Tampaknya nasib, selalu saja menggoda kesedihan berpijar

Jalan dan tiupan gelombang, angan dan hasrat bagai maki
Meriang-riang tampak usang ketika harapan jauh melayang
Lelaki airmata membiarkan segala amarah didingin air dan jiwa berongga duri
Saatnya yang datang tampak ketika airmata itu temukan cinta, segalanya akan rubah hidupnya tanpa bayang

Buat Seseorang...

Elegi buat “kau”

Hati ini pernah rasakan kasih itu
Mata ini pernah tatapkan kekaguman
Jiwa dan bathin pernah terhanyut akan cinta itu
Rasa rindu pancarkan ragu, membalik arahnya

Tak ingin kuingkari rasaku dalam kenangan itu
Kau pernah membuatku temukan jati diriku
Beri kesegaran darah otakku menuju pikiran kedepan
Tak mungkin diri kita menyatukan perbedaan itu

Kata maaf dariku tak mungkin legakan hatimu, aku terlalu
banyak dosa dan kesalahan
Mungkin pintaku hanya itu, maafkan semua yang lalu
Doaku mengiringi langkahmu untuk temukan kasih yang baik bagimu
Bukan diriku yang hina ini

Jalan kita mesti berpisah, biarlah dosaku menghukum langkahku nanti
Tapi satu lagi maaf dan relakan diri kita berpegang pada prinsip masing-masing
Semoga dirimu temukan kasih yang abadi, seutuhnya menyatukan cinta dan kasihmu

Tuesday, April 04, 2006

Berteman sepi

S….

.e..

..p.

…i

Kepada waktu aku ceritakan ....
Tentang persahabatan segala macam lakon
Terusik kecemasan dan ketakutan sepi yang bersemi
Berteman pada sejati sinar pagi mengitari bumi

Cengkrama lama selalu diinginkan namun tidaklah begitu seperti yang diharapkan.
Pada akhirnya…..
Riuh dan ramai tidak akan selalu menyenangkan
Untuk hidup berteman sepi, dengan jiwa yang mungkin inginkan keriangan hati

Akankah sakit seperti sembilunya duri cinta karena persahabatan ?
Waktu menyampaikan sepi akan jadi jawaban
Tapi sepi dalam ketenangan juga akan melainkan langkah nantinya
Untuk teman aku bertanya pada sepi
Agar aku bisa memahami segala perbuatan, pemikiran dalam kebersamaan
Ataupun dalam kesendirian yang sakit
Selalu sepi yang menanti dalam pesakitan dan kesedihan yang lama
Sepi kau adalah temanku, tempat mencari teman-teman yang lain

Monday, April 03, 2006

Puisi 1

Tak Sampai

Dalam bayangku, Kupendam kata-kata bisu
Pejamkan mata dalam gerak kaku, Akan kukejar asa yang mati
Mengenangmu dalam mendung langit tanpa mentari
Gelap tersembunyi dengan rembulan, embun enggan turun pagi hari
Namamu tetap tergores indah dalam dinding hati

Telah lama hari menjadi sepi
Namun bayanganmu mengikuti dari segala penjuru
Dalam ilusiku kau datang selalu mengusik diri ini
Dari kejauhan menderu, namun semua semu
Cintaku berselimut salju dalam badai
Terus mengikuti dengan rasa dada membiru
Ini adalah kisah cinta tak sampai
Karena keraguan selalu membelenggu

Surat buat Perempuan

Untuk mu...

Di mana sebentuk cinta yang berdiam di dadamu? Surat cinta yang dituliskan dengan sebegitu lelah, mengeringkan dedaunan, juga jalanan yang basah sehabis hujan. Mungkin, tubuhmu akan ringan dan tergenang di antara kesepianku. Meski, berpuluh tahun kurindukan aroma melati dan ringkih sunyi yang tak terbagi, pada catatan batin kita yang telah begitu tua..

Aku tak sempat menuliskan semua itu. Cuaca mendadak linglung, dan kabut menebal di wajahku, melahirkan kebisuan yang tak berwarna. Kenangan jadi kelabu. Aku berpikir, apakah selalu kutanamkan kecurigaan yang lindap kepadamu?
Pada pertikaian gagap yang menyekap tubuh di suatu kota, sketsa wajah yang hambar, membenamkan kembali di sebuah rumah dan senyum yang tanggal setiap hari.

Malam ini, aku rindu, betapa sepi telah lama tinggal di dada, menantimu seusai perjalanan panjang ini. Tak juga tiba. Kemudian, percakapan kita berhenti, tak lagi bisa mengukir cinta yang makin basah, sehabis hujan…